Pembuatan Kelas Lereng (ArcView)

Slope; Fungsi Slope mengindikasikan tingkat kemiringan dari sebuah permukaan (surface). Slope mengidentifikasikan laju maksimum dari perubahan nilai dari sebuah sel dibandingkan dengan nilai sel disekelilingnya (neighbor cells). Dalam analisis surface, keluaran dari perhitungan slope dapat dalam bentuk persen slope atau derajat slope. Lihat Gambar berikut.
slope
Beberapa aplikasi slope:

* Menentukan area datar yang cocok untuk lahan-lahan pertanian/perkebunan.

* Menentukan area-area yang mempunyai risiko erosi paling tinggi.

Menu choice: Derive Slope

Tahapan dalam membuat kelas lereng (Derive slope) adalah sebagai berikut :

* Buka software ArcView, akan terlihat tampilan kotak dialog “Welcome to ArcView GIS” dan pilih “with a new View” kemudian klik OK maka akan terlihat tampilan kotak dialog “Add Data” sebagai berikut dan kita klik “YES”
arcview
arcview2
Setelah kita mengklik “YES”, maka akan menampilkan kotak dialog “Add Theme”, yang mana layer yang akan ditampilkan disimpan di Drive mana? Dan Folder apa? Begitu juga nama layer apa?, untuk kali ini layer contoh yang digunakan adalah Areal HPH PT. ITCI yang berada di Provinsi Kalimantan Timur dengan nama layer “KON_G5” dengan memilih “arc”.
arcview3
Setelah kita memilih layer yang akan ditampilkan untuk pembuatan kelas lereng, maka akan terlihat dalam kotak dialog “ArcView GIS 3.x” dalam View1 menampilkan Garis kontur.
arcview5
Sebelum melanjutkan pembuatan TIN, karena kita menggunakan koordinat UTM terlebih dahulu masukan Map Unit : Meters dan Distance Units : Meter seperti terlihat dalam kotak dialog berikut :
arcview6
Setelah merubah kotak dialog “View Properties”, maka langkah selanjutnya adalah mengaktifkan extension : “3D-Analyst, Spatial Analyst dan Xtools Extension” seperti terlihat pada kotak dialog berikut:
arcview7
Untuk mengetahui apakah extension yang kita masukan aktif atau tidak, bisa dilihat dalam kotak dialog “ArcView GIS 3.2“ sebegai berikut :
arcview8
Sebelum melangkah tahap pembuatan kelas lereng terlebih dahulu membuat TIN (Triangulasi Irreguler Network) adalah model data vektor yang berbasiskan topologi yang digunakan untuk mempresentasikan data permukaan bumi. TIN menyajikan model permukaan sebagai sekumpulan bidang-bidang kecil yang berbentuk segitiga yang saling terhubung. Informasi koordinat horizontal (x,y) dan vertikal (z) untuk setiap titik yang terdapat di dalam jaringan TIN (yang kemudian dijadikan sebagai node) dikodekan ke dalam bentuk-bentuk tabel.

Pilih menu “Surface” dilanjutkan dengan memilih “Create TIN from Feature” setelah muncul kotak dialog “Create new TIN” kemudian dalam “Height source“ pilih “Tinggi” dimana field tinggi ini yaitu garis tinggi dalam kontur atau elevasi, dilanjutkan dengan mengklik “OK” dapat dilihat pada Gambar berikut ini

Setelah melakukan eksekusi dengan menekan tombol “OK”, maka akan keluar kotak dialog “Output TIN Name” silahkan simpan nama TIN di drive dan folder yang telah anda buat dengan nama “CRTIN-ITCI”

Setelah anda menyimpan nama TIN, maka akan terlihat tampilan 3D dimana disitu ditampilkan ketinggian tempat Areal HPH PT. ITCI dengan kisaran antara 50 mdpl paling rendah diberi warna hijau dan paling tinggi 700 mdpl diberi warna putih, dimana warna ini bias dirubah sesuai dengan keinginan anda. Tetapi secara default tampilan yang alami yaitu yang pertama kali muncul pada waktu membuat TIN.

Setelah mendapatkan TIN, maka langkah selanjutnya adalah membuat kelerengan “Derive slope”. Untuk membuat kelas lereng ini klik menu “Surface” kemudian klik “Derive Slope”, maka akan muncul kotak dialog “Output Grid Specification” dimana isi dalam kotak dialog ini adalah “Output Grid Extent : Same As Crtin-itci” dan “Output Grid Cell Size : 30” (nilai ini adalah dalam 1 pixel adalah lebar dan panjangnya adalah 30 meter tergantung keperluan anda tidak mesti harus 30 m, tapi untuk contoh kali ini kita menggunakan 30 meter), waktu kita masukan nilai 30, kemudian “ENTER” secara otomatis “ Number of Row : 2526 dan Number of Columns : 1802”. Semakin besar kita masukan “output Grid Cell Size, maka number of row dan number of column semakin kecil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

Lakukan eksekusi dengan meng-klik tombol “OK”, maka akan tampil kelas lereng dalam satuan (%) dengan kisaran 0 % ~ 88.68% seperti terlihat pada Gambar berikut ini.

* Setelah mendapatkan layer kelas lereng, kemudian kita bagi menjadi 5 kelas sesuai dengan kebutuhan, maka untuk contoh kali ini akan membuat kelas lereng dengan interval sebagai berikut :

KELAS LERENG
< 8 8 ~ 15 15 ~ 25 25 ~ 40 > 40

* Tahapan selanjutnya adalah pilih menu “Analysis” à kemudian “Reclassify” maka akan muncul kotak dialog “Reclassify Values” dan klik “Classify” tujuannya adalah untuk membagi menjadi 5 kelas, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

Setelah kita masukkan Number of Classes : 5, maka untuk eksekusinya klik “OK”, maka akana muncull kotak dialog “ Reclassify values”, masukan secara manual dalam kolom “Old Values” interval kelas lereng, seperti terlihat pada Gambar berikut ini.

Setelah kita mengeksekusi dengan klik “OK” kemudian masukan interval kelas lereng, dimana dalam tabel tercantum “< 8” maka disini tetap harus dimasukkan “0-8” dan untuk “> 40” tetap harus dimasukkan “40-88.68” dimana nilai 88.68 adalah kelas lereng paling tinggi dalam areal HPH PT. ITCI, beda lagi kalau kita membuat kelas lereng misalnya daerah kabupaten Bogor dsb. Setelah memasukkan interval “40-88.68” sebelum memilik “OK” terlebih dahulu klik “No Data” kemudian baru klik “OK” seperti terlihat pada gambar, tujuannya agar “number of classes : 5” tidak berubah menjadi 9 kelas. Setelah kita melakukan eksekusi dengan klik “OK”, maka akan terlihat gambar sebagai berikut:

* Setelah kita mendapatkan kelas lereng menjadi 5 kelas, maka langkah selanjutnya adalah mengkonversi dari format Raster (grid) ke format Vektor, tujuannya adalah agar bisa dihitung luasnya per kelas lereng harus dalam format vector.
* Adapun tahapan untuk mengkonversi dari grid ke vector adalah : pilih menu “Theme” kemudian pilih “Convert to Shapefile” selanjutnya simpan “Drive dan Folder” yang telah dibuat sebelumnya dengan nama layer/file “Kelas_Lereng_ITCI”, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Setelah kita melakukan eksekusi dengan memilik/klik “OK”, mungkin ada kendala atau pesan “Error”, maka solusinya adalah melakukan ulang Convert to Shapefile” dengan nama file persis sama kemudian nanati ada “Replace” kita pilih aja “YES”, maka akan bertambah layer baru dalam format vector dengan nama file/layer “Kelas_Lereng_ITCI”, seperti terlihat pada Gambar berikut ini.

Untuk merubah attribute gridcode, maka aktifkan layer “Kelas_Lereng_ITCI” seperti terlihat pada gambar di atas. Selanjutnya klik ikon “Open Theme Table” untuk membuka Table attributenya seperti terlihat pada gambar berikut ini adalah ikon “Open Thme Table”.






sumber : dead websites for backup purposes

5 thoughts on “Pembuatan Kelas Lereng (ArcView)”

  1. Thanks sharenya mengingatkan sama praktikum waktu masih kuliah
    pernah ke IPB yah mas

  2. Wah artikelnya bagus sekali mas, thank you.kebetulan saya baru belajar dalam dunia gis dan artikel ini sangat membantu. semoga berkah dan masnya makin pinter..
    setelah saya ikuti step by step ttg pembuatan klas lereng ini, saya mentok di gambar no 4 dari bawah pada proses calculate.
    tulisan atau operasi matematik pada kotak putih tuh apa ya mas?

Tinggalkan Pesan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Maaf, anda dilarang mengkopi konten halaman ini.

Discover more from Blog SIG dan Geografi

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading